• Informasi lebih lanjut hubungi +6282340009428

Buku yang Direkomendasikan

Referensi yang direkomendasikan oleh Dr.Miftahul Arzak, S.Ikom., MA.

The Book You Wish Your Parents Had Read

Penulis: Philippa Perry
Tahun Terbit: 2017
The Book You Wish Your Parents Had Read karya Philippa Perry mengajak orang tua melihat pengasuhan bukan sekadar sebagai kumpulan teknik untuk membuat anak berperilaku baik, tetapi sebagai proses membangun hubungan emosional yang sehat. Buku ini dimulai dari kesadaran bahwa setiap orang tua membawa emotional legacy dari keluarganya sendiri. Pola bagaimana orang tua dulu menghadapi stres, konflik, kemarahan, kasih sayang, bahkan cara memperlakukan emosi anak, dapat menjadi semacam default setting yang tanpa sadar kita ulangi kepada anak. Karena itu, orang tua perlu melakukan “audit” terhadap pola yang diwariskan: mana yang masih sehat dan relevan, mana yang perlu diubah. Tujuannya bukan menyalahkan orang tua kita, melainkan mengambil tanggung jawab agar pola yang kurang baik tidak otomatis diteruskan kepada generasi berikutnya. Dari sini Perry menekankan bahwa hubungan lebih penting daripada sekadar perilaku. Tantrum, tidak mau makan, membantah, atau perilaku sulit hanyalah bagian yang terlihat; fondasinya adalah rasa aman, diterima, dan terhubung dengan orang tua. Hubungan yang kuat seperti koneksi Wi-Fi yang stabil membuat cinta, nasihat, aturan, dan batasan dapat “terkirim” dengan baik. Karena itu, kontak mata, mendengarkan tanpa sibuk dengan HP, memperhatikan cerita anak, serta mengakui perasaan mereka merupakan investasi kecil yang terus bertumbuh dalam hubungan emosional.
Salah satu gagasan penting berikutnya adalah bahwa semua perasaan boleh dirasakan. Orang tua sering membedakan emosi menjadi emosi “baik” seperti senang dan bangga, serta emosi “buruk” seperti marah, sedih, takut, atau cemburu. Padahal menurut pendekatan Perry, perasaan bukan sesuatu yang harus segera dihilangkan, melainkan data atau informasi internal. Marah dapat menunjukkan adanya batas yang dilanggar, sedih menunjukkan kehilangan, dan takut menunjukkan adanya sesuatu yang dianggap mengancam. Ketika orang tua mengatakan “jangan sedih” atau “nggak usah takut”, anak bisa belajar bahwa perasaannya sendiri tidak dapat dipercaya. Karena itu, langkah pertama adalah validasi, bukan langsung memberikan solusi. Orang tua dapat mengatakan, “Aku lihat kamu marah banget,” atau “Pasti sedih ya ketika temanmu pergi.” Validasi tidak berarti membenarkan semua perilaku. Anak boleh merasa marah, tetapi tetap tidak boleh memukul; boleh kecewa, tetapi tetap harus mengikuti batasan. Dengan demikian, anak belajar membedakan antara perasaan yang perlu dirasakan dan perilaku yang perlu diatur. Gagasan ini juga berkaitan dengan konsep rupture and repair: karena tidak ada orang tua yang sempurna, hubungan pasti sesekali mengalami “keretakan” ketika orang tua kehilangan kesabaran, membentak, salah memahami anak, atau bereaksi karena stres dan kelelahan. Yang paling penting bukan menghindari semua kesalahan, tetapi mampu memperbaiki hubungan setelah kesalahan terjadi. Mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada anak mengajarkan bahwa konflik adalah bagian normal dari hubungan, hubungan yang retak dapat diperbaiki, dan meminta maaf bukan tanda kelemahan melainkan bentuk tanggung jawab dan kekuatan.
Perry kemudian mengajak orang tua melihat perilaku sebagai puncak gunung es. Ketika anak memukul adiknya, melempar makanan, atau melakukan sesuatu yang dianggap buruk, respons spontan orang tua biasanya adalah menghentikan perilaku tersebut. Namun, perilaku yang terlihat mungkin hanya sekitar “10%” dari keseluruhan persoalan. Di bawah permukaan terdapat perasaan, kebutuhan, pikiran, dan pengalaman yang mendorong munculnya perilaku itu. Anak yang memukul adiknya mungkin sebenarnya sedang menyampaikan kecemburuan atau kebutuhan akan perhatian. Anak yang melempar makanan mungkin sedang mencari rasa kontrol atau otonomi. Dengan perspektif ini, orang tua tidak hanya bertindak sebagai “polisi perilaku”, tetapi sebagai detektif emosi yang mencari akar persoalan. Pertanyaannya berubah dari “Apa yang salah dengan anak saya?” menjadi “Apa yang sedang coba dikomunikasikan anak saya melalui perilakunya?” Kebutuhan tersebut dapat berupa koneksi, rasa aman, otonomi, perhatian, atau kebutuhan sensorik. Pendekatan ini membuat orang tua lebih penasaran daripada marah dan lebih berempati daripada menghakimi. Bersamaan dengan itu, batasan tetap diperlukan. Perry tidak menganjurkan pola asuh otoriter yang penuh aturan kaku maupun pola permisif yang membiarkan semuanya. Batasan yang sehat adalah seperti pagar pengaman, bukan penjara. Orang tua dapat menetapkan aturan dengan tegas tetapi tetap memberikan ruang pilihan dan otonomi, misalnya menjelaskan bahwa waktu menonton sudah selesai sambil menawarkan apakah anak ingin mematikan televisi sendiri atau dibantu. Anak tetap boleh marah dan kecewa terhadap batasan tersebut. Orang tua memvalidasi emosinya tanpa mencabut aturannya. Frustrasi yang sehat justru membantu anak mengembangkan kemampuan mengelola emosi, menunda kepuasan, dan memahami bahwa dunia memiliki aturan tanpa membuat mereka merasa kehilangan cinta orang tuanya.
Buku ini juga menolak tekanan untuk menjadi orang tua sempurna. Philippa Perry menggunakan gagasan Donald Winnicott tentang the good-enough parent, yaitu orang tua yang “cukup baik”. Ini bukan berarti menjadi orang tua yang asal-asalan, tetapi menjadi orang tua yang responsif dan penuh kasih tanpa tuntutan untuk selalu benar, selalu sabar, atau selalu mampu memenuhi kebutuhan anak secara sempurna. Ketidaksempurnaan tertentu bahkan memberi ruang bagi anak untuk berkembang. Ketika orang tua tidak langsung mengambilkan mainan yang jatuh, anak dapat belajar berusaha sendiri; ketika orang tua tidak langsung menyelesaikan masalah anak, anak memperoleh kesempatan mengembangkan problem-solving. Karena itu, tujuan parenting bukan memperoleh nilai sempurna, melainkan membangun koneksi, hadir untuk anak, dan mampu memperbaiki hubungan ketika terjadi kesalahan. Perspektif ini juga membuat pengasuhan lebih berkelanjutan karena mengejar kesempurnaan dapat menyebabkan kelelahan dan burnout. Orang tua tidak perlu menjadi superhero yang menyelamatkan anak dari setiap kesulitan; mereka cukup menemani, memberi ruang untuk berkembang, dan siap membantu ketika anak benar-benar membutuhkan.
Terakhir, Perry menempatkan bermain sebagai pekerjaan anak-anak. Bagi orang dewasa, bermain sering dianggap sebagai aktivitas tambahan setelah pekerjaan penting selesai, tetapi bagi anak, bermain justru merupakan cara utama untuk memahami dunia. Melalui permainan, anak bereksperimen, mengembangkan kemampuan sosial, memproses pengalaman, memecahkan masalah, memahami emosi, dan belajar bernegosiasi. Menyusun balok mengajarkan tentang gravitasi dan stabilitas; bermain dokter membantu anak memproses pengalaman serta mengembangkan empati; sementara bermain bersama teman mengajarkan negosiasi dan resolusi konflik. Bermain merupakan semacam simulator kehidupan dengan risiko rendah. Peran orang tua tidak selalu harus mengarahkan atau mengoptimalkan permainan. Anak perlu diberi ruang untuk bermain sendiri, bahkan mengalami kebosanan karena kebosanan dapat menjadi pintu menuju kreativitas. Namun, ketika anak mengundang orang tua masuk ke dunianya, orang tua sebaiknya mengikuti arahan anak—menjadi monster ketika diminta menjadi monster atau pasien ketika diminta menjadi pasien. Dengan cara tersebut, orang tua menyampaikan pesan bahwa dunia anak penting, imajinasi mereka berharga, dan mereka layak mendapatkan perhatian penuh. Pada akhirnya, seluruh gagasan buku ini saling terhubung: memahami warisan emosional diri, mengutamakan hubungan daripada perilaku, menerima dan memvalidasi emosi, memperbaiki hubungan setelah terjadi konflik, memahami kebutuhan di balik perilaku, menetapkan batasan dengan empati, menerima diri sebagai orang tua yang “cukup baik”, dan menyediakan ruang bermain. Semuanya bermuara pada satu prinsip besar: parenting bukan tentang membentuk anak menjadi sempurna, tetapi tentang membangun hubungan yang aman, penuh koneksi, dan sehat sehingga anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang mampu memahami dirinya, mengelola emosinya, membangun hubungan, serta menghadapi dunia dengan lebih tangguh.