Sapiens: A Brief History of Humankind
Penulis:
Yuval Noah Harari
Tahun Terbit:
2011
Sapiens karya Yuval Noah Harari menceritakan perjalanan panjang Homo sapiens dari spesies manusia yang pada awalnya biasa saja hingga menjadi penguasa utama planet Bumi. Jauh sebelum manusia mengenal teknologi modern, terdapat beberapa spesies manusia yang hidup berdampingan, termasuk Homo sapiens dan Neanderthal. Keunggulan utama Sapiens bukanlah kekuatan fisik, melainkan kemampuan berkomunikasi dan menciptakan realitas imajiner yang dipercaya bersama. Inilah yang menjadi dasar Revolusi Kognitif sekitar 70.000 tahun lalu. Manusia mampu membicarakan sesuatu yang tidak hadir secara fisik—dewa, roh, mitos, kelompok, aturan, dan tujuan bersama—sehingga ratusan bahkan ribuan orang yang tidak saling mengenal dapat bekerja sama. Kemampuan membangun kerja sama dalam kelompok besar membuat Sapiens mampu beradaptasi dengan cepat terhadap berbagai lingkungan, menyebar dari Afrika ke berbagai penjuru dunia, menguasai sumber daya, dan pada akhirnya menggantikan spesies manusia lainnya. Dengan kata lain, kekuatan terbesar manusia bukan terletak pada individu, tetapi pada kemampuan menciptakan kepercayaan bersama yang memungkinkan kolaborasi dalam skala besar.
Salah satu perubahan terbesar berikutnya adalah Revolusi Pertanian sekitar 12.000 tahun lalu. Selama sebagian besar sejarahnya, manusia hidup sebagai pemburu-pengumpul (hunter-gatherers) yang berpindah-pindah, mengonsumsi makanan yang lebih beragam, dan relatif aktif secara fisik. Ketika mulai bertani, manusia memang mampu menghasilkan lebih banyak makanan dan meningkatkan jumlah populasi, tetapi Harari menunjukkan sebuah paradoks: kemajuan bagi spesies belum tentu berarti kemajuan bagi individu. Pertanian membuat manusia menetap, bekerja lebih keras, bergantung pada tanaman tertentu seperti gandum dan padi, menghadapi penyakit akibat kepadatan penduduk, serta mengalami konflik mengenai tanah dan sumber air. Karena itu, Harari secara provokatif menggambarkan Revolusi Pertanian sebagai “penipuan terbesar dalam sejarah”: manusia mengira telah menjinakkan gandum, padahal dalam perspektif tertentu justru gandum yang “menjinakkan” manusia. Produksi kalori memang meningkat, populasi berkembang pesat, desa dan kota muncul, tetapi harga yang dibayar adalah berkurangnya variasi makanan, meningkatnya beban kerja, serta berkurangnya kebebasan individu. Ini menunjukkan bahwa optimalisasi untuk pertumbuhan populasi tidak selalu menghasilkan optimalisasi bagi kualitas hidup manusia.
Ketika populasi manusia semakin besar, muncul persoalan baru: bagaimana jutaan orang yang tidak saling mengenal dapat bekerja sama? Jawabannya adalah imagined orders, yaitu sistem kepercayaan bersama yang sebenarnya tidak memiliki keberadaan objektif seperti gunung atau sungai, tetapi menjadi nyata karena manusia sepakat mempercayainya. Agama, uang, hukum, kerajaan, negara, perusahaan, bahkan konsep seperti angka dan hak tertentu dapat berfungsi sebagai realitas bersama yang mengatur perilaku manusia. Uang menjadi contoh paling kuat karena selembar kertas atau angka di rekening sebenarnya tidak memiliki nilai intrinsik, tetapi menjadi sangat kuat karena miliaran manusia percaya bahwa uang tersebut bernilai. Sistem ini menghilangkan keterbatasan barter, memungkinkan perdagangan lintas wilayah, mempermudah akumulasi modal, investasi, dan perkembangan ekonomi. Kekaisaran juga bekerja melalui kemampuan mengintegrasikan kelompok yang berbeda ke dalam satu sistem politik, hukum, bahasa, dan budaya; meskipun prosesnya sering disertai kekerasan, imperialisme juga menyebabkan pertukaran gagasan, teknologi, bahasa, hukum, dan budaya. Sementara itu, agama memberikan kerangka moral dan makna kosmik yang dapat menyatukan manusia melampaui batas suku dan wilayah. Agama-agama universal seperti Kristen dan Islam memiliki kemampuan ekspansi yang besar karena menganggap Tuhan dan ajarannya berlaku bagi seluruh umat manusia, bukan hanya satu kelompok tertentu.
Kemudian manusia memasuki Revolusi Ilmiah sekitar 500 tahun lalu, sebuah perubahan paradigma yang sangat penting karena manusia mulai berani mengatakan “Saya tidak tahu.” Sebelumnya, banyak masyarakat menganggap pengetahuan penting telah tersedia dalam tradisi, kitab suci, atau pemikiran para filsuf terdahulu. Sains mengubah pola tersebut dengan menjadikan ketidaktahuan sebagai titik awal penelitian. Ilmuwan tidak hanya mencari jawaban, tetapi mengajukan pertanyaan baru, membuat hipotesis, mengumpulkan bukti empiris, melakukan eksperimen, dan bersedia mengoreksi kesimpulan ketika ditemukan data baru. Dari perubahan cara berpikir ini lahir perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kedokteran, dan kemudian Revolusi Industri. Kapitalisme kemudian menjadi salah satu kekuatan utama yang mempercepat proses tersebut. Kapitalisme dibangun di atas keyakinan bahwa masa depan dapat menjadi lebih kaya dan produktif, sehingga orang bersedia memberikan kredit, melakukan investasi, membangun perusahaan, dan mengambil risiko sekarang dengan harapan memperoleh keuntungan di masa depan. Sains menyediakan pengetahuan dan teknologi, sementara kapitalisme menyediakan modal dan insentif untuk mengembangkan serta menyebarkannya secara massal. Keduanya menghasilkan pertumbuhan kekayaan dan teknologi yang sangat cepat, meskipun juga membawa persoalan seperti kesenjangan sosial, eksploitasi, dan kerusakan lingkungan.
Pada bagian akhir, Harari membawa kita dari sejarah Sapiens menuju pertanyaan mengenai masa depan manusia. Setelah berhasil mengendalikan api, mengembangkan bahasa, menciptakan pertanian, membangun kota dan kekaisaran, menciptakan sistem keuangan, mengembangkan sains, serta menghasilkan teknologi modern, manusia mulai memasuki tahap ketika kita tidak hanya mengubah lingkungan, tetapi juga berusaha mengubah diri kita sendiri. Melalui bioengineering, cyborg engineering, dan penciptaan kehidupan nonorganik seperti Artificial Intelligence, manusia mulai mendekati kemampuan yang dahulu hanya diasosiasikan dengan dewa. Kita dapat membayangkan perpanjangan umur, peningkatan kemampuan biologis dan kognitif, serta munculnya bentuk kecerdasan yang berbeda dari manusia. Namun, Harari menekankan paradoks besar: memiliki lebih banyak kekuatan tidak otomatis membuat manusia lebih bahagia atau lebih puas. Kemajuan justru dapat menciptakan persoalan baru yang semakin kompleks. Karena itu, pertanyaan terbesar masa depan bukan sekadar apakah manusia mampu menciptakan teknologi tersebut, melainkan apa yang sebenarnya ingin kita capai dengan kekuatan itu. Jika Sapiens tidak mampu mengendalikan arah perkembangannya sendiri, kita mungkin menciptakan sesuatu yang lebih kuat daripada diri kita dan akhirnya menjadi usang atau bahkan menghancurkan diri sendiri. Pada akhirnya, buku ini mengajak kita melihat sejarah manusia bukan sebagai cerita tentang kemajuan yang selalu positif, tetapi sebagai perjalanan dari spesies yang mampu menciptakan realitas bersama menjadi spesies yang kini memiliki kekuatan untuk menentukan bahkan masa depannya sendiri.