The Subtle Art of Not Giving a F*ck
Penulis:
Mark Manson
Tahun Terbit:
2016
Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck karya Mark Manson menawarkan pendekatan yang berlawanan dengan banyak gagasan self-help yang membuat kita merasa bahwa hidup harus selalu positif, bahagia, sempurna, dan penuh pencapaian. Di era media sosial, kita mudah membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih bahagia, sukses, dan sempurna, sehingga muncul rasa inferior dan kosong. Manson justru mengajak kita menerima kenyataan bahwa hidup memang penuh masalah, friction, kegagalan, dan hal-hal yang tidak menyenangkan. Kebahagiaan yang lebih kokoh bukan berasal dari menghilangkan semua masalah, tetapi dari keberanian menerima dan menghadapi masalah yang memang bermakna. “Nggak peduli” juga bukan berarti apatis atau tidak peduli terhadap apa pun, melainkan kemampuan melakukan selective care: memilih secara sadar apa yang benar-benar penting. Energi mental, fokus, dan emotional energy kita terbatas, sehingga tidak semuanya pantas mendapatkan perhatian. Tidak semua komentar orang harus dimasukkan ke hati, tidak semua masalah harus menjadi masalah kita, dan tidak semua hal di luar kendali kita layak menghabiskan bandwidth mental. Karena itu, kita perlu bertanya apakah sebuah masalah memang pantas mendapatkan energi kita dan apakah hal tersebut sejalan dengan nilai yang benar-benar kita pegang.
Manson kemudian membahas entitlement, yaitu perasaan bahwa kita berhak mendapatkan kebahagiaan, kenyamanan, kesuksesan, atau kehidupan yang mudah tanpa usaha dan konsekuensi yang sebanding. Entitlement membuat kita merasa bahwa hidup seharusnya selalu berjalan sesuai keinginan dan ketika terjadi masalah, kita cenderung mencari pihak lain untuk disalahkan. Kita bahkan dapat membangun narasi tentang diri sendiri sebagai korban, sebagai karakter utama dalam cerita yang selalu paling menderita atau paling tidak beruntung. Contohnya, ketika terlambat bangun dan rapat menjadi kacau, kita bisa menyalahkan macet, cuaca, atau atasan yang menjadwalkan rapat terlalu pagi daripada mengakui bahwa kita sendiri salah memasang alarm atau tidur terlalu larut. Mekanisme seperti ini memang membuat kita lebih nyaman karena kita tidak perlu menghadapi rasa bersalah atau ketidaknyamanan, tetapi sekaligus menghilangkan agency kita. Karena itu, Manson mendorong radical responsibility: tidak semua hal yang terjadi merupakan kesalahan kita, tetapi kita tetap bertanggung jawab atas bagaimana kita meresponsnya dan makna yang kita berikan terhadap kejadian tersebut. Daripada bertanya, “Kenapa ini terjadi sama gue?”, kita dapat bertanya, “Apa yang bisa gue pelajari dari ini?” atau “Bagaimana gue bisa bertanggung jawab atas bagian gue di sini?” Mengambil responsibility berarti mengambil kembali kekuatan untuk memilih respons, menentukan meaning, dan bertindak.
Dari sinilah muncul salah satu core idea buku: kita tidak dapat berharap memiliki hidup tanpa masalah, tetapi kita dapat berharap memiliki masalah yang bagus. Masalah adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari; yang membedakan kehidupan seseorang bukan ada atau tidaknya masalah, tetapi kualitas masalah yang dipilih untuk dihadapi. Jika seseorang ingin menjadi founder startup, misalnya, ia harus siap menghadapi funding yang sulit, perubahan market, pegawai yang resign, dan kompetitor yang semakin banyak. Masalah-masalah tersebut menjadi “masalah bagus” jika memang sesuai dengan impian dan nilai hidupnya. Sebaliknya, jika seseorang hanya ingin menjadi founder agar terlihat keren di media sosial tetapi tidak siap menghadapi berbagai kesulitannya, maka ia sebenarnya memilih masalah yang salah. Untuk memilih masalah yang tepat, seseorang harus memahami dirinya sendiri dan nilai-nilai yang benar-benar dipegang, seperti kejujuran, keberanian, kontribusi, atau learning. Manson bahkan memberikan pertanyaan provokatif: jika kita dapat memilih rasa sakit apa pun dalam hidup, rasa sakit seperti apa yang rela kita pilih? Jawaban itu akan menunjukkan apa yang sebenarnya kita prioritaskan. Seseorang mungkin rela pusing menghadapi coding karena ia senang menciptakan software yang berguna bagi banyak orang; rasa sakit tersebut menjadi harga untuk passion dan impact. Jadi, kebahagiaan bukan tentang mengeliminasi rasa sakit, melainkan elevasi rasa sakit, memilih rasa sakit yang purposeful dan sejalan dengan kehidupan yang ingin kita bangun.
Konsep responsibility kemudian dipertegas melalui perbedaan antara kesalahan dan tanggung jawab. Jika seseorang lahir dari keluarga yang tidak mampu, kondisi tersebut bukan salahnya karena merupakan kenyataan objektif yang tidak ia pilih. Namun, apa yang dilakukan terhadap kenyataan tersebut dan bagaimana ia meresponsnya tetap menjadi tanggung jawabnya. Begitu pula ketika hujan membuat jalan becek dan seseorang terpeleset; hujan bukan salahnya, tetapi ia tetap bertanggung jawab untuk lebih berhati-hati atau menggunakan sepatu yang tidak licin. Selama seseorang terus memandang dirinya sebagai korban dan menolak agency, ia akan merasa powerless dan menganggap nasibnya sepenuhnya ditentukan oleh orang lain atau keadaan. Sebaliknya, ketika ia mengambil ownership terhadap responsibility, ia mengambil kembali kekuatannya dan berhenti menunggu penyelamat. Ia menjadi problem solver utama bagi kehidupannya sendiri. Manson juga memberikan reality check bahwa kita tidak harus merasa spesial. Obsesi untuk menjadi superstar, viral, unik, atau selalu menjadi yang terbaik justru menciptakan pressure, insecurity, dan ketakutan untuk gagal. Menerima bahwa kita memiliki keterbatasan membuat kita lebih bebas mencoba, gagal, belajar, dan mencoba lagi. Growth sering kali berjalan lambat dan membosankan, sementara compounding effect datang dari konsistensi, bukan grand gestures sesekali. Dengan tidak terbebani kebutuhan untuk menjadi “yang paling”, kita dapat fokus pada proses, incremental improvement, humility, realism, serta pencapaian kecil yang benar-benar bermakna tanpa membutuhkan validasi dari luar.
Kesadaran bahwa hidup terbatas juga menjadi alat penting untuk membebaskan diri dari ketakutan. Kematian adalah kepastian, dan justru kesadaran terhadap mortality dapat menjadi motivator untuk berhenti menunda, berhenti membuang waktu, berani mengambil risiko, dan melakukan hal-hal yang benar-benar penting. Ketakutan terhadap kegagalan, kritik, dan ketidaksempurnaan menjadi lebih kecil ketika dilihat dari perspektif bahwa waktu kita terbatas. Kesadaran ini mendorong kita keluar dari comfort zone, mengambil keputusan sulit, dan hidup berdasarkan nilai yang lebih dalam. Ketakutan untuk mencoba bahkan bisa lebih besar daripada rasa sakit akibat kegagalan, sehingga lebih baik menjalani hidup dengan berani mencoba daripada berakhir dengan penyesalan karena tidak pernah mencoba. Pertanyaan seperti, “Kalau ini hari terakhirku, apakah aku akan menyesal nggak melakukan hal ini?” dapat menjadi kompas dalam mengambil keputusan. Pada saat yang sama, Manson menghadirkan paradoks bahwa the only way to be happy is to stop trying to be happy. Obsesi mengejar kebahagiaan dan positive emotions justru membuat kita semakin menderita ketika mengalami fase rendah. Hidup memang memiliki grafik naik-turun, sehingga kebahagiaan seharusnya tidak diperlakukan sebagai tujuan akhir. Kebahagiaan lebih tepat dipahami sebagai byproduct dari proses menyelesaikan masalah, bertumbuh, berjuang, dan menjalani sesuatu yang bermakna. Karena itu, fokus kita sebaiknya berpindah dari “Bagaimana caranya gue bahagia?” menjadi “Masalah apa yang mau gue selesaikan hari ini?” atau “Nilai apa yang mau gue hidupi hari ini?” Kita beralih dari outcome yang fickle menuju tindakan yang berada dalam kendali kita; semakin kita mengejar kebahagiaan, semakin ia sulit didapat, sedangkan semakin kita fokus pada purposeful struggle dan growth, kebahagiaan dapat muncul sebagai efek sampingnya.
Pada akhirnya, seluruh filosofi buku ini kembali kepada values atau nilai-nilai hidup. Nilai adalah kompas yang menentukan arah kehidupan, menentukan masalah apa yang kita pilih, apa yang layak kita pedulikan, dan bagaimana kita mengukur kesuksesan. Manson memperingatkan adanya bad values, yaitu nilai-nilai dangkal seperti “harus selalu kaya”, “harus selalu disukai semua orang”, “harus selalu benar”, atau “harus selalu positif”. Nilai semacam itu bersifat unrealistic dan banyak bergantung pada sesuatu yang berada di luar kendali kita, sehingga ketika kita menjadikannya ukuran kehidupan, kita akan terus mudah kecewa. Sebaliknya, good values bersifat lebih internal dan controllable, seperti kejujuran, konsistensi, compassion, dan learning. Kita dapat memilih untuk jujur dalam situasi apa pun, berusaha konsisten, menunjukkan empati, dan terus belajar dari kesalahan. Nilai-nilai tersebut membuat kita lebih resilient dan empowered. Untuk menemukan nilai yang tepat, kita perlu melakukan refleksi mendalam: apa yang benar-benar kita yakini dan apa yang tetap kita perjuangkan bahkan ketika tidak ada orang yang melihat? Jawabannya membantu kita memilih masalah yang meaningful sekaligus menentukan metrics kesuksesan kita. Jika nilai kita adalah pertumbuhan dan kontribusi, kesuksesan tidak lagi diukur dari jumlah likes, popularitas, atau validasi sosial, tetapi dari seberapa banyak kita belajar dan seberapa besar impact yang kita berikan. Dengan demikian, inti buku ini bukan mengajarkan kita untuk menjadi cuek, melainkan mengajarkan seni memilih apa yang layak dipedulikan: menerima bahwa hidup pasti memiliki masalah, mengambil tanggung jawab atas respons kita, memilih masalah yang sesuai dengan nilai, menerima keterbatasan diri, berani menghadapi kegagalan dan kefanaan, berhenti mengejar kebahagiaan secara obsesif, serta membangun kehidupan berdasarkan nilai-nilai yang benar-benar berada dalam kendali kita.