Think and Grow Rich
Penulis:
Napoleon Hill
Tahun Terbit:
1936
Think and Grow Rich karya Napoleon Hill pada dasarnya menjelaskan bahwa kekayaan dan pencapaian besar tidak dimulai dari uang, modal, atau keberuntungan, melainkan dari cara seseorang berpikir dan kekuatan tujuan yang dimilikinya. Semuanya berawal dari burning desire, yaitu hasrat yang begitu kuat terhadap sesuatu sehingga berubah dari sekadar keinginan menjadi definitive intent atau niat yang pasti. Keinginan untuk “menjadi kaya” atau “ingin sukses” terlalu umum. Hill mengajarkan agar seseorang menentukan secara spesifik berapa jumlah kekayaan yang ingin dimiliki, apa yang bersedia diberikan sebagai imbalannya, kapan target itu harus tercapai, serta rencana apa yang akan digunakan untuk mencapainya. Tujuan tersebut kemudian harus ditulis dengan jelas dan dibaca dua kali sehari, pagi dan malam, sambil membayangkan bahwa tujuan itu sudah tercapai. Bagi Hill, proses tersebut membuat tujuan semakin kuat di dalam pikiran dan menjadi dasar bagi tindakan nyata. Pengalaman Hill sendiri ketika bertemu Andrew Carnegie menjadi contoh penting. Carnegie menantangnya untuk menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari kehidupan orang-orang sukses dan menemukan prinsip di balik keberhasilan mereka. Hill menerima tantangan itu tanpa ragu karena memiliki dorongan yang sangat kuat. Dari sini terlihat bahwa pencapaian besar sering kali dimulai dari keputusan yang pasti yang didorong oleh hasrat yang sangat kuat.
Hasrat kemudian harus diperkuat oleh keyakinan atau faith. Menurut Hill, seseorang tidak cukup hanya mengetahui apa yang diinginkannya; ia harus percaya bahwa tujuan tersebut benar-benar dapat dicapai. Keyakinan ini dibangun melalui auto-suggestion, yaitu proses memberikan sugesti secara berulang kepada diri sendiri hingga gagasan tersebut masuk ke alam bawah sadar. Karena itu, membaca pernyataan tujuan tidak boleh dilakukan secara mekanis. Seseorang harus melakukannya dengan emosi, keyakinan, dan visualisasi, seolah-olah keberhasilan tersebut telah menjadi kenyataan. Alam bawah sadar dipandang Hill sebagai tempat yang menerima dan mengembangkan gagasan yang terus-menerus ditanamkan kepadanya. Jika yang ditanam adalah keyakinan positif, tujuan, dan gambaran keberhasilan, pikiran akan semakin terbiasa mencari jalan yang sesuai dengan tujuan tersebut. Sebaliknya, keraguan, ketakutan, dan pengalaman negatif dapat menjadi semacam “virus mental” yang menghambat tindakan. Hill menggunakan kisah Thomas Edison yang terus melakukan percobaan meskipun mengalami ribuan kegagalan dan Henry Ford yang tetap mempertahankan gagasan membuat mesin V-8 meskipun para teknisinya menganggapnya mustahil. Pesannya adalah bahwa keyakinan yang kuat membuat seseorang mampu bertahan ketika logika dan pendapat orang lain mengatakan bahwa sesuatu tidak mungkin. Dengan pengulangan, visualisasi, dan emosi, auto-suggestion menjadi jembatan yang menghubungkan keinginan sadar dengan pola pikir bawah sadar.
Namun, keyakinan saja tidak cukup. Seseorang membutuhkan pengetahuan khusus atau specialized knowledge agar hasratnya dapat diwujudkan secara nyata. Hill membedakan pengetahuan umum dengan pengetahuan yang secara langsung berguna untuk mencapai tujuan. Seseorang bisa memiliki pengetahuan yang sangat luas atau pendidikan tinggi, tetapi itu tidak otomatis membuatnya kaya. Yang penting adalah kemampuan untuk mengetahui pengetahuan apa yang dibutuhkan, bagaimana mendapatkannya, lalu bagaimana mengorganisasi dan menggunakannya. Pengetahuan khusus dapat diperoleh melalui pengalaman, observasi, pendidikan formal maupun informal, buku, kursus, mentor, dan orang-orang yang memiliki keahlian tertentu. Hill menunjukkan bahwa seseorang tidak harus mengetahui segala sesuatu sendiri. Henry Ford, misalnya, dapat mengumpulkan orang-orang yang lebih ahli dan menggunakan pengetahuan mereka untuk mendukung tujuannya. Setelah memiliki pengetahuan, seseorang juga membutuhkan imajinasi, yang disebut Hill sebagai “bengkel pikiran”. Imajinasi memungkinkan seseorang mengolah pengetahuan menjadi ide dan peluang baru. Hill membaginya menjadi synthetic imagination, yaitu kemampuan menggabungkan gagasan yang sudah ada menjadi kombinasi baru, dan creative imagination, yaitu munculnya gagasan atau solusi baru yang sebelumnya tidak terpikirkan. Imajinasi sintetis bekerja seperti menyusun potongan LEGO menjadi bentuk baru, sedangkan imajinasi kreatif menghasilkan kemungkinan yang lebih orisinal. Karena itu, seseorang tidak boleh terlalu cepat menolak ide yang terlihat aneh atau mustahil. Banyak inovasi besar pada awalnya hanya berupa gagasan yang dianggap tidak masuk akal, sebagaimana gagasan Wright bersaudara tentang manusia yang dapat terbang. Pengetahuan menyediakan bahan, tetapi imajinasi menentukan apa yang dapat diciptakan dari bahan tersebut.
Setelah memiliki hasrat, keyakinan, pengetahuan, dan imajinasi, semuanya harus diterjemahkan ke dalam perencanaan yang terorganisir. Hill menyebutnya definite practical plan, yaitu rencana yang jelas, konkret, dan dapat dijalankan. Rencana bukan sekadar daftar pekerjaan, melainkan strategi yang memperhitungkan siapa yang dibutuhkan, sumber daya apa yang tersedia, kapan tindakan dilakukan, dan bagaimana menghadapi berbagai hambatan. Karena tidak seorang pun menguasai seluruh pengetahuan dan kemampuan, Hill menekankan pentingnya membangun aliansi dengan mentor, rekan bisnis, karyawan, penasihat, atau orang lain yang memiliki kompetensi yang diperlukan. Gagasan inilah yang kemudian berkaitan dengan konsep Mastermind Group, yaitu kerja sama dengan orang-orang yang dapat memberikan pengetahuan, dukungan, perspektif, dan energi untuk membantu mencapai tujuan. Yang juga penting, jangan menunggu sampai rencana menjadi sempurna. Rencana yang tidak sempurna tetapi dijalankan dan diperbaiki jauh lebih berguna daripada rencana sempurna yang tidak pernah dimulai. Setelah rencana dibuat, diperlukan pula kemampuan mengambil keputusan dengan cepat dan tegas. Hill mengamati bahwa orang-orang yang berhasil cenderung cepat mengambil keputusan dan sangat lambat mengubahnya, sedangkan orang yang gagal sering kali lambat mengambil keputusan tetapi cepat mengubahnya karena tekanan atau keraguan. Henry Ford kembali menjadi contoh seseorang yang mampu mengambil keputusan dengan cepat dan mempertahankannya. Prinsipnya bukan bertindak sembarangan, melainkan mengumpulkan fakta yang relevan secukupnya, menghindari paralysis by analysis, mempercayai penilaian sendiri, kemudian berkomitmen terhadap keputusan yang telah dibuat. Kesalahan tetap mungkin terjadi, tetapi keputusan yang salah dapat menjadi pelajaran, sedangkan tidak mengambil keputusan dapat membuat seseorang kehilangan momentum dan peluang.
Pada akhirnya, seluruh proses tersebut membutuhkan satu kekuatan terakhir, yaitu ketekunan atau persistence. Banyak orang memiliki ide bagus, tujuan besar, bahkan rencana yang baik, tetapi berhenti ketika menghadapi kegagalan pertama, kritik, penolakan, atau kesulitan. Bagi Hill, inilah salah satu pembeda terbesar antara mereka yang berhasil dan mereka yang menyerah. Hambatan bukan selalu tanda bahwa seseorang harus berhenti; sering kali hambatan justru menjadi ujian terhadap seberapa kuat hasratnya terhadap tujuan tersebut. Ketekunan dibangun dengan memiliki tujuan yang pasti dan burning desire, membuat rencana yang terorganisir serta terus memperbaikinya, menutup diri dari pikiran negatif baik dari diri sendiri maupun orang lain, dan membangun Mastermind Group sebagai sistem pendukung. Orang-orang dalam kelompok tersebut dapat memberikan semangat ketika seseorang kehilangan motivasi sekaligus kritik konstruktif ketika ia mulai menyimpang dari tujuan. Dengan demikian, delapan pembahasan ini sebenarnya membentuk satu rangkaian yang utuh: hasrat menentukan tujuan, keyakinan membuat kita percaya bahwa tujuan itu mungkin, auto-suggestion menanamkan keyakinan ke dalam pikiran, pengetahuan khusus menyediakan kemampuan, imajinasi menciptakan gagasan, perencanaan mengubah gagasan menjadi strategi, keputusan mengubah strategi menjadi tindakan, dan ketekunan membuat seseorang terus bergerak sampai tujuan tercapai. Bagi Hill, kekayaan bukan sekadar hasil dari bekerja keras, tetapi hasil dari kombinasi antara pikiran yang terarah, tujuan yang pasti, tindakan yang terorganisir, keputusan yang tegas, serta kemampuan untuk tidak menyerah ketika menghadapi friction dan rintangan.