• Informasi lebih lanjut hubungi +6282340009428

Buku yang Direkomendasikan

Referensi yang direkomendasikan oleh Dr.Miftahul Arzak, S.Ikom., MA.

Thinking, Fast and Slow

Penulis: Daniel Kahneman
Tahun Terbit: 2011
Thinking, Fast and Slow karya Daniel Kahneman, peraih Nobel Prize, membahas cara manusia berpikir dan mengambil keputusan melalui dua sistem utama dalam pikiran: Sistem 1 dan Sistem 2. Sistem 1 bekerja cepat, otomatis, intuitif, dan hampir tanpa usaha sadar. Ia yang membuat kita langsung terkejut ketika mendengar suara keras, mengenali emosi dari wajah seseorang, memahami kalimat sederhana, atau mengetahui bahwa 2 + 2 = 4 tanpa perlu menghitung secara serius. Sistem ini sangat efisien karena terus mencari pola dan membuat kesimpulan dari pengalaman sebelumnya. Namun, kecepatan tersebut juga menjadi sumber berbagai bias kognitif. Sistem 2, sebaliknya, bekerja lebih lambat, sadar, analitis, dan membutuhkan konsentrasi, misalnya ketika menghitung sesuatu yang rumit, mengisi dokumen pajak, atau mempertimbangkan pembelian rumah. Masalahnya, Sistem 2 cenderung “malas” dan mudah menerima jawaban yang diberikan Sistem 1 selama jawaban tersebut terasa cukup masuk akal. Akibatnya, intuisi yang sebenarnya hanya tebakan dapat dianggap sebagai kebenaran, terutama ketika kita mengambil keputusan bisnis atau strategis tanpa memeriksa data secara memadai.
Kahneman kemudian menunjukkan bahwa pikiran kita sangat mudah dipengaruhi oleh priming, yaitu ketika informasi, lingkungan, kata-kata, gambar, atau pengalaman tertentu secara tidak sadar memicu asosiasi tertentu dalam pikiran. Kata seperti “MAKAN” dapat langsung memunculkan asosiasi “lapar” atau “kenyang”, sementara lingkungan toko, aroma kopi atau cokelat, maupun cara sebuah produk diperkenalkan dapat memengaruhi perasaan dan keputusan konsumen. Sistem 1 juga memiliki kecenderungan membangun cerita yang terasa lengkap dari informasi yang tersedia, sebuah fenomena yang berkaitan dengan WYSIATI (What You See Is All There Is). Kita cenderung membuat kesimpulan berdasarkan apa yang terlihat sambil mengabaikan informasi yang tidak terlihat atau belum diketahui. Karena itu, seseorang dengan CV bagus, komunikasi meyakinkan, dan referensi positif dapat langsung dianggap sebagai kandidat sempurna, padahal masih ada banyak informasi yang belum diperiksa. Mekanisme yang sama dapat melahirkan confirmation bias, ketika kita lebih tertarik mencari informasi yang mendukung keyakinan awal daripada bukti yang membantahnya. Dalam bisnis dan perencanaan strategis, kecenderungan ini dapat menghasilkan cerita sukses yang terlalu optimistis. Karena itu, diperlukan kebiasaan mencari bukti yang berlawanan, menggunakan devil’s advocate, dan secara sengaja mempertanyakan asumsi yang sudah terasa benar.
Sistem 1 juga terus-menerus membuat ekspektasi tentang bagaimana dunia seharusnya bekerja. Ketika kenyataan berbeda dari ekspektasi, muncul kejutan yang kemudian dapat mendorong Sistem 2 untuk bekerja lebih aktif. Hal ini menjelaskan mengapa kita langsung bereaksi ketika mendengar suara asing, menemukan sesuatu yang tidak sesuai kebiasaan, atau membaca kalimat yang secara makna terasa janggal. Dalam bisnis dan inovasi, mekanisme ini penting karena produk yang terlalu jauh dari ekspektasi pasar dapat membuat konsumen bingung, sementara kejutan yang menyenangkan tetapi masih dapat dipahami dapat menciptakan delight dan hubungan emosional dengan merek. Persoalan lain adalah illusion of validity, yaitu kecenderungan merasa sangat yakin terhadap sebuah penilaian hanya karena informasi yang tersedia terasa mudah dipahami dan membentuk cerita yang koheren. Seorang analis keuangan atau perekrut dapat merasa sangat yakin terhadap prediksinya, padahal keyakinan tersebut belum tentu sejalan dengan akurasi. Pada bidang yang kompleks dan penuh ketidakpastian, seperti pasar keuangan, pengalaman seorang ahli sekalipun tidak selalu menghasilkan prediksi yang lebih baik daripada kebetulan. Karena itu, keyakinan yang tinggi tidak sama dengan kebenaran. Intuisi sebaiknya diperlakukan sebagai hipotesis awal yang kemudian diuji melalui data, bukti yang berlawanan, alternatif penjelasan, dan pengakuan terhadap ketidakpastian.
Salah satu kontribusi terbesar Kahneman bersama Amos Tversky adalah Prospect Theory, yang menjelaskan bahwa manusia tidak mengambil keputusan dalam kondisi risiko dengan cara yang sepenuhnya rasional sebagaimana diasumsikan teori ekonomi klasik. Kita menilai hasil terutama sebagai keuntungan dan kerugian relatif terhadap titik acuan, dan manusia memiliki kecenderungan kuat terhadap loss aversion: kerugian terasa jauh lebih menyakitkan daripada keuntungan dengan nilai yang sama terasa menyenangkan. Karena itu, seseorang bisa memilih keuntungan Rp10 juta yang pasti daripada peluang 50% mendapatkan Rp20 juta, tetapi ketika menghadapi kerugian Rp10 juta yang pasti, ia justru lebih memilih berjudi dengan peluang 50% kehilangan Rp20 juta atau tidak kehilangan apa-apa. Pola ini juga menjelaskan disposition effect, ketika investor cenderung terlalu lama mempertahankan saham yang merugi demi berharap kembali ke titik impas, tetapi cepat menjual saham yang sudah menghasilkan keuntungan. Kahneman juga membahas framing effect, yaitu bagaimana cara penyampaian informasi dapat mengubah keputusan meskipun fakta dasarnya identik. Orang dapat memilih program yang “menyelamatkan 200 orang” tetapi memilih program berisiko ketika pilihan yang sama dibingkai sebagai “400 orang pasti meninggal”. Prinsip ini sangat penting dalam marketing, politik, komunikasi, dan pengambilan keputusan karena “90% bebas lemak” terasa berbeda dari “mengandung 10% lemak”, walaupun informasinya sama. Maka, kita perlu belajar membalik framing dan bertanya apakah keputusan kita tetap sama jika informasi disampaikan dengan cara berbeda.
Buku ini pada akhirnya mengajarkan bahwa keputusan yang lebih baik membutuhkan sistem yang sengaja dirancang untuk mengatasi keterbatasan pikiran manusia. Salah satunya adalah menghindari planning fallacy, yaitu kecenderungan meremehkan waktu, biaya, dan risiko sekaligus melebih-lebihkan manfaat sebuah proyek. Untuk mengatasinya, Kahneman memperkenalkan reference class forecasting, yaitu membandingkan rencana kita dengan data historis proyek-proyek serupa, bukan hanya mengandalkan cerita optimistis tentang proyek yang sedang kita kerjakan. Teknik pre-mortem juga berguna: bayangkan proyek sudah gagal, kemudian tanyakan mengapa kegagalan itu terjadi sehingga risiko yang sebelumnya tidak terlihat dapat diidentifikasi sejak awal. Kita juga harus berhati-hati terhadap kecenderungan menganggap korelasi sebagai kausalitas. Dua hal yang bergerak bersama belum tentu berarti salah satunya menyebabkan yang lain; seperti meningkatnya penjualan es krim dan kasus tenggelam yang sama-sama meningkat karena faktor ketiga, yaitu musim panas. Dalam pengambilan keputusan bisnis, hubungan semacam ini harus diuji dengan alternatif penjelasan dan bukti kausalitas yang lebih kuat. Terakhir, Kahneman menjelaskan affect heuristic, yaitu kecenderungan menilai risiko berdasarkan perasaan daripada probabilitas objektif. Kita bisa lebih takut terhadap kecelakaan pesawat yang dramatis daripada penyakit yang secara statistik jauh lebih mematikan karena kejadian yang vivid lebih mudah memengaruhi Sistem 1. Karena itu, inti besar Thinking, Fast and Slow bukanlah bahwa kita harus mematikan intuisi, melainkan mengetahui kapan intuisi layak dipercaya dan kapan Sistem 2 harus dipaksa bekerja lebih keras. Dengan data, reference class, pengujian alternatif, pre-mortem, pemeriksaan probabilitas, dan kesadaran terhadap bias, kita dapat menciptakan proses berpikir yang lebih kritis, rasional, dan tahan terhadap kesalahan penilaian.